Kapolda Gelar Nobar “Sang Prawira”, Para Penonton Terharu dan Menangis

0
270

PORTAL BENGKULU – Tayang perdana film “Sang Prawira”, Kapolda Bengkulu Irjen Pol Supratman menggelar nonton bareng bersama para pelajar dan wartawan di bioskop Bencoolen Mall XXI, Kamis (28/11/2019) sore. Film yang mengisahkan seorang remaja bernama Horas yang berjuang untuk menjadi perwira polisi ditengah kemiskinan dan melawan perintah sang ayah ini, mampu membangkitkan keharuan dan kesedihan para penonton. Sang ayah yang awalnya menentang keras Horas untuk mendaftar polisi dan menginginkan Horas menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) keluar negeri, sadar setelah sang anak pergi meneruskan tekadnya menjadi perwira polisi. Kecelakaan yang membuat kaki kanan sang ayah terpaksa diamputasi membuat sang ayah sadar dan merestui Horas masuk polisi.

Sebelum berpamitan dengan ibunya untuk menempuh Akpol, Horas sempat berpamitan dengan sang pacar, namun diakhir kisah, sang pacar tak sanggup menantinya dan menikah dengan teman SMA Horas. Yang membuat menangis adalah saat sang ibu rela meminjam uang dengan menggadaikan anting-antingnya untuk jaminan meminjam uang Rp 500 ribu guna bekal Horas. Hutang tersebut bahkan sempat ditagih menjelang kematian sang ibu. Tetes air mata pun mewarnai adegan penagihan hutang.

Perjuangan keras dan fokus, menjadikan Horas yang merupakan pemuda asal Sumatera Utara ini menjadi perwira berprestasi. Dia dipanggil Kapolri Jendral Tito Karnavian untuk mendapat wejangan bagaimana menjadi seorang polisi yang bernegara. Perjuangan Horas menamatkan pendidikan di Akpol sempat diisi materi kebangsaan oleh Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) yang menjadi pengajar di Akpol, juga Menteri Hukum dan Ham Yassonnah H Laoly yang berperan sebagai seorang profesor.

Sedihnya lagi, ketika Horas selesai di Akpol dan pulang ke rumah, sang ibu telah meninggal dunia karena sakit. Kesedihan belum usai, sang pacar ternyata seminggu lagi akan menikah dengan teman SMA dengan alasan selama 4 tahun tidak mendapat kepastian dari Horas.

Kehilang ibu, kehilangan kekasih, tidak membuat Horas surut semangat membangun masa depan. Adik kandung Horas kemudian diajak untuk kuliah di kota, disitulah Horas bertemu dengan Luhut Panjaitan (Menko Maritim) yang berperan sebagai akademisi.

Sudah berakhir? belum. Berdinas di Polrestabes Medan, Horas ditugaskan menangkap seorang bandar narkoba yang tak lain adalah teman dekatnya. Teman dekatnya inilah yang awal mula bersama Horas masuk polisi, namun gagal. Akibat gagal, dia kemudian menjadi bandar narkoba.

Saat menangkap bandar narkoba tersebut, Horas nyaris menembaknya, namun hubungan persahabatan di masa lalu membuatkan gagal menangkap bandar. Ditegur atasan, membuat Horas harus sadar akan tanggung jawabnya sebagai polisi. Penangkapan pun kemudian dilakukan dan berhasil memadamkan bandar narkoba dan jaringannya. Namun, diakhir cerita, sang bandar yang merupakan mantan sahabatnya itu harus tewas ditangan Horas sendiri.

“Ditinggal ibu, ditinggal kekasih, ditinggal sahabat, tapi hidup harus terus berlanjut”.

“Film ini membuat saya sedih, terharu dan menangis, ada kisah heroisme seorang ibu demi anak, juga seorang ayah yang keras kemudian sadar, dan tentang kesetiaan seorang wanita, dan kisah sahabat yang kemudian menjadi musuh negara, pokoknya kami sedih dan menangis,” ungkap Kena, wartawati yang ikut nonton bareng.

Tak hanya Kena, Tri Yulianti, wartawati media online juga mengaku sedih dan menangis. “Sedih, haru dan menangis juga,” katanya.

Begitu juga dengan Apriansyah, wartawan mingguan di Bengkulu. “Saya menangis, ingat perjuangan ibu di film itu,” ujarnya.

Film “Sang Prawira” selain mengangkat perjuangan seorang Horas, juga diselingi dengan tampilan nuansa adat batak, pesona wisata Pulau Nias dan Danau Toba. Film ini tak melulu ketegangan, sebab hadir juga Babinkamtibmas asal Polres Purworejo yang viral disela pendidikan Akpol menyampaikan pesan moral kepada para taruna dan taruni.(bengkulutoday.com)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here