Dilanda Banjir Lumpur Ratusan Hektar Sawah Porak Poranda, Petani Bungin Terancam Gagal Panen

PEWARTA : YOVING DT 
SABTU 10 FEBRUARI 2018 



PORTAL LEBONG – Ratusan hektar sawah masyarakat di Desa Bungin Kecamatan Bingin Kuning Kabupaten Lebong kembali porak poranda dan bakal terancam gagal panen. Pasalnya, tanaman padi yang baru berumur sekitar 2 minggu hanyut dilanda banjir lumpur.

Kondisi ini membuat resah para petani setempat. Sebab, bukan hanya tanaman padi yang rusak dan hanyut, akibat tertutup material lumpur, diprediksi aktifitas tanam padi selanjutnya akan terhambat. Sedangkan sawah merupakan satu-satunya sandaran ekonomi bagi mereka.

Selain rusaknya sawah, akibat lumpur tersebut, jalan penghubung antara Desa Bungin ke perkebunan masarakat juga mengalami rusak berat dan nyaris putus.

“Kejadian ini bukan yang pertamakali menimpa sawah kami, pada musim tanam ini saja sudah dua kali tanaman padi sawah kami dilanda banjir. Pertama terjadi sekitar satu bulan lalu. Kami tanam kembali dengan harapan dapat memetik hasil panen. Namun kejadian terulang kembali,” keluh petani setempat, Dapit kepada awak media ini, Sabtu.

Dapit beserta segenap petani lainnya yang sawahnya teancam gagal panen menuturkan hararapannya kepada pihak pemerintah untuk dapat memberikan jalan keluar. Mereka menduka kejadian ini merupakan dampak dari aktifitas PT PGE yang beroperasi di hulu sungai.

“Semestinya pihak PT PGE harus bertanggung jawab atas akibat yang ditimbulakn dari aktifitas kegiatan perusahaan tersebut. Terus terang sawah merupakan satu-satunya untuk kami memenuhi kebutuhan hidup,” papar Dapit.

Sementara itu, Kades Bungin, Yuswan Edi mengatakan, banjir limpur tersebut merupakan dampak dari kejadian longsor tahun 2016 silam. Material longsor tersebut kata dia menutupi Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Bungai.

“Akibat dari longsor tahun 2016 lalu, menyebabkan terjadinya pendangkalan DAS. Sehingga ketika hujan turun dan debit air naik alur sungai tak mampu menampung dan akhirnya air menyebar kemana-mana menerpa daerah persawahan dan merusak jalan utama akses ke perkebunan masyarakat,” jelas Kades.

Disayangkan oleh dia, pasca longsor 2016 hingga sekarang belum ada perhatian dari pemerintah daerah melalui dinas terkait. Sementara warga petani di desa Bungin yang terkena dampak banjir longsor tersebut sangat membutuhkan adanya perhatian dan solusi.

“Hingga sekarang, baik dari Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup bahkan dari BPBD pun tak ada perhatian atas musibah ini. Sejauh ini belum ada upaya normalisasi DAS Air Bungai ini hanya dari dinas PUPR  yang pernah meminjamkan Exavator selama 2 hari,” imbuh Kades.

Kades juga meyakini banjir ini merupakan dampak dari aktifitas PT PGE. Yang menrut dia beroperasi di kawasan hutan lindung dan saat ini menjadi gundul.

“Tidak bisa dipungkiri sedikit banyak musibah ini adalah akibat dari aktivitas PT.PGE karena lokasi PT.PGE itu adalah kawasan hutan lindung  dan sekarang sudah gundul. Harapan kami kepada Pemkab Lebong dan pihak perusahaan tolong perhatikan nasib kami masyarakat kecil ini,” pungkas dia.


Editor : Uj

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *